Memaparkan catatan dengan label Dakwah Crunch. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Dakwah Crunch. Papar semua catatan

Ahad, Mac 20, 2011

Salam semua...

How are you? Hope you guys are always happier, finer and stronger. Hihi... Me, Alhamdulillah, quite recover from my heart broken last night *sob2*. So now, I AM totally fine. Insya Allah. 

Well, wanna share with you guys. Last 2 nights, I had an usrah (like a quranic circle) with my junior and we really-really had a great night together. Usually we make this gathering once in a week at my junior's flat. Alternate the turn between them. And this time we made it at Raihana's flat.


See what I caught in Raihana's room. Soo cute! *psst..she must have tried so hard to keep her room clean for our usrah* hihi

Actually this usrah should be like sharing about tauhid, tadabbur, fiqah, sirah and whatever sharing as long as that sharing will remind us to Allah and His Greatness. Basically, the first agenda in our usrah is makan-makan and having a 'ringan-ringan' chat like everybody shared what had happened that day in their life. Was it good or bad and so on. And yeah, this was what we ate in our usrah. Tadaaa!!!


A black forest cake. yummy!


Benjos (or egg burgers) made by Rai, the Lord of the house.Hihi


Vienetta ice-cream.Mmmm...


Cheese Bread Pizza. So nice and full of fat as well. *slap my forehead*


And this like zoom out everything. :-)

Alhamdulillah, Allah granted us with the wonderful foods that night. We all got so full and everybody felt like postpone the usrah and go back to their flat to sleep. Haha.*Joking*

So, we had had a great tadabbur on surah Al-Qamar versus 7 to 27. Just reflected on every horror punishments that Allah gave to the people of Luth, Tsamud, Noah, and 'Ad. And we tried to relate all that punishments to the tsunami and earthquake that happened lately at Japan and of course at Banda Aceh before. 

We don't actually said that they are not good people or what. We were so sorry of what had happened at Japan and Banda Aceh. We know that they must had been very painful and trauma and sad as well. But what we tried to share in our discussion was that sometimes, we didn't notice that we quite obsess with our wisdom. Like we think that we can make everything by ourselves. We don't even need Allah's help. We think that our building that we built was so strong and nothing can force it down. We were so proud with our creations and inventions.

But then, see! Allah is Almighty. If Allah said kun fayakun, the safetest nuclear plant in Japan can even explode just like that. Allahuakbar. The tsunami just swept away every expensive car, houses, buildings and  not to forget the humans! Allahuakbar. I just can't imagine that. Very scary!

May Allah help them at Japan and forgive whatever sin they had done. Ameen...

After that tadabbur we continued with the tauhid things. I shared with them about the topic of KEDIAMAN DAN KEDAMAIAN. Very-very suited with tsunami issue. Alhamdulliah, well, after 2 hours of usrah, see what happened to our delicious foods at the beginning.


Oh my! The cake was badly damaged! *sad* 


Vienetta gone away...*sob2*


Look, they tried to finish all them till the end. Fatty girls!:-)

Ok then, that's all from me. Let's see what you guys have in your life. Don't be too greedy to share your sweet or bitter moments in your life. You can maybe inspire someone by your story. And yeah, sharing is caring!:-)

Love you as always,
diDiE AiNoRi

Sabtu, Mac 05, 2011

Salam buat sahabat-sahabat yang hatinya bersih dan sejuk.

Sekadar perkongsian. Semalam, saya lihat ada seorang gadis. Katanya, dia telah membuat suatu dosa besar. Dia sedih kerana hatinya sudah kotor dan dia berasa seolah hilang jiwanya. Dia ingin menangis. Tetapi dia merasakan air matanya tidak sudi lagi keluar. Dia berfikir bahawa mungkin Allah sudah benci kepadanya. Allah mungkin tidak mahu memaafkan kesalahannya lagi.

Hatinya hiba. Tapi air matanya tidak mahu keluar-keluar juga. Dia buntu. Mahu sendu, tapi bagaimana? Kalau Allah sendiri tidak mahu mendengar rintihan hati, siapa lagi yang sudi?


Gadis ini berasa seolah-olah hilang diri. Takut untuk melakukan dan mengajak orang berbuat baik lagi kerana dia berasa dia sendiri sangat jahat. Bagaimana mungkin seorang yang melakukan dosa akan bisa mengajak orang lain membuat pahala?

Sedih dan sayu hatinya. Terasa jauh dari rahmat Allah. Gadis ini  baru teringat. Hari ini dia ada Quranic Circle dan dia harus mengisi slot tazkirah dalam QCnya. Termenung panjang dia.

Sekali lagi dia bertanya diri, bagaimana mungkin hati yang kotor ini dapat membersihkan hati-hati orang lain? Tidak mungkin-tidak mungkin...

Ditakdirkan Allah, gadis ini mengadu halnya kepada seorang teman.

Katanya, "Bagaimana saya mahu ke QC sedangkan saya sangat teruk hari ini."

Dibalas rakannya, "Bawalah hati kamu ke sana."

Dijawab semerta, "Bagaimana mahu dibawa hati sedangkan aku tidak punya hati lagi. Hatiku telah kotor."

Sahabatnya tersenyum lalu menutur, "Sememangnya QC itu tempat untuk kita menyucikan hati yang kotor...Oleh itu, bawalah hatimu ke sana. Insya Allah, moga disucikanNya."

Gadis ini terdiam. Sejuk hatinya tiba-tiba. Lalu dia pun melangkah ke QC dengan jiwa yang diserah penuh kepada Allah. Diam-diam dia berdoa,

"Ya Allah, moga aku bukan menjadi penyebab terhalangnya hidayahMu untuk sampai kepada sahabat-sahabatku yang lain. Moga dosa-dosaku bukan menjadi penutup rahmatMu buat teman-temanku.Ameen."

Sekian perkongsian dari kisah gadis yang saya lihat.

Love you as always,
diDiE AiNoRi

Ahad, Disember 19, 2010

Copyright Control:here

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon cinta Allah. Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). 


Apalah artinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha  Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebab itulah Nabi Daud ’alihis-salaam tidak menyebutkan dalam awal doanya harapan akan cinta manusia. Beliau mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Beliau sangat menyadari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya, maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap Nabi Daud ’alihis-salaam. Tetapi bila Allah sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap dirinya tidak bisa menjamin datangnya cinta Allah kepada Nabi Daud ’alihis-salaam.

Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)

Kedua, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah. Sesudah mengharapkan cinta Allah lalu Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah kasih-sayang dari orang-orang yang mencintai Allah, sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang beriman sejati yang sangat pantas diharapkan cintanya.


Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ dan Al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri).  Yang dimaksud dengan  Al-Wala’  ialah memelihara loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Bara’ ialah berlepas diri dari kaum kuffar dan munafiqin. Karena loyalitas mu’min hendaknya kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud ’alihis-salaam berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan dengan kalangan sesama orang-orang beriman yang mencintai Allah. Dan ia sangat meyakini akan hal ini.

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)

Ketiga, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah. Setelah memohon cinta Allah kemudian cinta para pecinta Allah, selanjutnya Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan dan amal kebaikan yang mendatangkan cinta Allah. Ia sangat khawatir bila melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Beliau sangat khawatir bila berbuat dengan hanya mengandalkan perasaan bahwa Allah pasti mencintainya bila niat sudah baik padahal kualitas dan pelaksanaan ’amalnya bermasalah. Maka Nabi Daud ’alihis-salaam sangat memperhatikan apa saja perkara yang bisa mendatangkan cinta Allah pada dirnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah yang dimaksud dengan Ash-Shobirin? Apa sifat dan perbuatan mereka sehingga menjadi dicintai Allah?

”Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran ayat 146)



Keempat, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih dia utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin. Kemudian pada bagian akhir doa ini Nabi Daud ’alihis-salaam kembali menegaskan betapa beliau sangat peduli dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga beliau sampai memohon kepada Allah agar cinta Allah yang ia dambakan itu jangan sampai kalah penting bagi dirinya daripada cinta dirinya terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.

Mengapa di dalam doanya Nabi Daud ’alihis-salaam perlu mengkontraskan cinta Allah dengan cinta dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan orang bilamana harus memilih antara mengorbankan diri dan keluarga dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting jangan sampai diri dan keluarga terkorbankan. Kenapa air dingin? Karena air dingin merupakan representasi kenikmatan dunia yang indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelezatan duniawi yang telah dimilikinya.


Jadi bagian terakhir doa Nabi Daud ’alihis-salaam mengandung pesan pengorbanan. Ia rela mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri maupun kesenangan duniawinya asal jangan sampai ia mengorbankan cinta Allah. Ia amat mendambakan cinta Allah. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat faham maksud Allah di dalam Al-Qur’an:



“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24)


Ayat-ayat alquran tentang cinta:



2:222
3:31
3:159
3:146
Saff 4
Mumtahanah 8
Maidah 93
9:7

Khamis, Februari 18, 2010

From:
http://fmcute. multiply. com/journal/ item/389

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata kepada Mu’adz bin Jabal, “Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat halus serta dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?”

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan aku ceritakan…” Tiba-tiba Mu’adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, “Emh, sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau…”.

Kemudian Mu’adz melanjutkan:

Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, “Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki.

Wahai Mu’adz….!
Labbaik, wahai penghulu para rasul….!
Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla….!


Wahai Mu’adz…Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa’I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut danmensucikannya
.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah… Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini….!!”

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, “Berhenti kalian…! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka (’aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!” Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka….”

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya.. ! Aku adalah malaikat penjaga sifat ‘ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur ‘ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari.

Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, “Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, ‘Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalansi hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya…!’

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’ (berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum’ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal iniberbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya’, dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya’ tersebut….!’

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta’ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, ‘Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku…! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar….. Pengetahuan- Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan- Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan- Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan- Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan- Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan- Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku….!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, ‘Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, ‘Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras…Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, “Wahai Rasulullah……Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi…??”

Rasulullah bersabda, “Oleh karena itu wahai Mu’adz…..Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan…”.

Dengan suara yang bergetar Mu’adz berkata, “Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin Jabal….Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua…??”

Nabi yang suci bersabda, “Baiklah wahai Mu’adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya…” (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang……..

Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu’adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, “Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua….??”

“Wahai Mu’adz…! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala…. Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya…..!!”

Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.

Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, “Setelah kalian mendengar hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya, atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh dengan huru-hara yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian Alam. Berdiam diri di ujung sebuah pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebab itu semua adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak akan selamat darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat Allah Ta’ala semata.

Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata. Bangunlah kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-benar diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan yang menakutkan ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama orang-orang yang celaka. Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala, kapan saja dan dalam kadaan bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong dengan sebaik-baiknya…
(maaf tak jumpa pulak hadis riwayat apa..)

Ahad, November 15, 2009

Salam alaik~~

Sudah 2 minggu blog ini terbiar...Sepi tak berhuni...

Bukan tuannya hilang, tapi kesibukan yang menelan...

huhu...

2 minggu lepas, saya menghadiri program kecemerlangan pendidikan anjuran sponsor kesayangan saya, KEMENTERIAN PELAJARAN MALAYSIA di Warwick, UK.

Kalau boleh, ingin saya kongsikan segala ilmu dan motivasi yang saya dapat daripada program mantap tersebut.

Ya Allah...hanya Allah saja yang tahu betapa saya merasakan bahawa program itu adalah suatu rahmat yang terbesar buat diri saya.

Kerana jujurnya, pada minggu keenam di UK saya tidak boleh menipu diri sendiri lagi. Saya stress! Tension dengan study yang saya rasakan saya tak terdaya lagi nak bawa. Dengan tanggung jawab2 lain yang perlu saya pikul.

Saya lemah, saya hilang semangat sebagai seorang fata, saya hilang motivasi sebagai seorang syabab. Saya tenggelam dalam kalut urusan dunia yang menyesakkan.


Huhu...Namun alhamdulillah...Allah itu sentiasa di sisi...Sesiapa sahaja yang mengharapkan bimbingan dan pimpinanNya, mengharapkan rahmat dan pertolonganNya, pasti Dia akan Mengurniakannya...

Alhamdulillah, motivational talk yang disampaikan oleh TKSU KPM, Datuk Kamruzzaman itu telah berjaya membasahkan jiwa saya kembali. Menyemarakkan semangat yang hampir-hampir saja luntur.

Terkesan saya dengan kata-kata beliau,

"Untuk menjadi seorang yang excellent, cemerlang dalam semua segi, kita perlu ada PENGORBANAN. Kita MESTI sanggup berkorban! Tidak ada orang yang berjaya tanpa pengorbanan."


Subhanallah....tegas sekali kata-kata beliau, sesuai dengan karismanya sebagai bekas best student Oxford, UK.

tambah beliau lagi,

"untuk menjadi cemerlang kita perlu ada 3 perkara;

KNOWLEDGE + SKILLS + ATTITUDE "

Attitude atau dalam bahasa Melayunya, SIKAP!

Sikap itu adalah paling penting dalam ketiga-tiga perkara itu.

Kerana sikaplah yang menentukan knowlegde dan skills.

Saya sebenarnya masih bertatih dalam memperbetul sikap. Sikap yang negatif kepada positif, contohnya seperti malu tak bertempat.

Malu bertanya, malu menonjol, malu mempamerkan kualiti yang ada dalam diri.

Sebaliknya, bahkan kita dalam Islam amat dituntut untuk menjadi seorang yang berketrampilan, berdaya maju, berdaya saing, jujur, amanah, hebat, ikhlas dan sebagainya.

Begitulah, dalam dakwah juga kita perlu pengorbanan.

Dalam apa jua pun, kalau namanya inginkan KEJAYAAN tuntasnya haruslah pengorbanan.

Pokoknya kalau sanggup berkorban, ikhlas demi Allah, insya Allah, akan diganjari kefahaman, kejayaan seterusnya kebahagiaan.

Hmm..Indahnya....

Tetapi ingat, di sisi manusia, selain malaikat yang menjaga, adanya syaitan yang menggoda.

Kita tidak boleh terlalu yakin diri dengan menyangka;

" Nahhh....aku sudah berkorban, sudah tetap hati untuk belajar dan bekerja dijalan Allah, maka Allah pasti akan memelihara aku."

Tidak boleh sama sekali!!!

Kerana detikan seperti ini hanya mengundang syaitan bertamu.

Riak, bongkak, takabbur, ujub. Perasaan halus yang disuntik syaitan saat hati terlalu yakin.

Oleh itu, perkara yang paling sukar tetapi mesti dibuat adalah muhasabah dan istighfar.

Hati ini boleh saja berbolak balik. Hati ini bagaikan tudung periuk yang isinya menggelegak. Ia berbolak balik semudah itu.

Hanya kepada Allah jualah kita sandarkan doa dan harapan...

Ya Allah,

Sering aku cuba lari dariMu.

Sering aku remehkan arahanMu...

Sering aku rendahkan ayat-ayatMu...

Sering aku pandang enteng pahala dan balasanMu...

Sering aku ragu dengan syurga dan NerakaMu...

Sering aku tidak peduli dengan dosa-dosaku...

Sering aku ambil mudah rahmat dariMu...


Ya Allah,

apakah masih layak aku berada dalam barisan fata pilihanMu?

apakah masih ada tempat untuk manusia sehinaku?


Ya Allah,

aku benci teori,

aku benci retorik,

aku benci cakap kosong,

aku benci falsafah,

yang semuanya tiada nilai kalau tanpa amal...

yang semuanya sampah kalau tidak ditunai...


Tapi ya Allah...

Sering kali akulah yang terjatuh ke dalam lembah itu..

Akulah yang cakap tak serupa bikin

Akulah yang paling kuat membantah

Akulah yang paling melulu menurut hati

Akulah, akulah yang sering ya Allah.....


Ya Allah...

Ampunkan andai darah mudaku pernah menghiris jalan dakwahMu...

Ampunkan kalau darah mudaku pernah melemahkan barisan syababMu...

Ampunkan kalau darah mudaku pernah menghalang rahmatMu turun kepada orang lain...

Ampunkan aku ya Allah.....


Alhamdulillah juga pada minggu ketujuh saya telah diberi peluang lagi untuk menghadiri suatu sesi daurah ataupun seminar di Birmingham.

Pada saya, isi daurah kali ini hampir saling tak tumpah dengan apa yang saya dapat di Warwick.

Intinya sama, cuma matlamatnya saja yang berbeza. Yang satunya untuk cemerlang dalam belajar, yang satu lagi untuk cemerlang dalam dakwah.

Tetapi sebenarnya, dakwah adalah study dan study adalah dakwah.

Ia satu bentuk hubungan relatif,seiring dan saling berkait.

Maka kita perlu cemerlang study dan berusaha untuk cemerlang juga dalam mengajak orang kepada Allah.

RABBANI...dakwah menuju Allah, bukan dakwah menuju manusia...

Dakwah menuju syurga, bukan dakwah menuju bala...

Wallahualam bisshawab...

Jumaat, Mei 29, 2009

Pada post sebelum ini, pernah saya menyentuh tentang berdakwah melalui filem atau drama. Hari ini, saya kembali lagi dengan isu itu. Bukan untuk mensensasikan, sekadar cuba meluruskan fikiran dengan meluahkan.

Apabila sesebuah filem/drama hendak diangkat menjadi medium baru dalam berdakwah, orang sibuk membangkitkan soal pemilihan artis yang tidak Islami, tentang halal haram pergaulan pelakon-pelakon berlainan gender dan sebagainya. Untuk lebih jelas, mari kita telusuri serabut minda kita ini dengan meng 'highlightkan' points yang mungkin menjadi persoalan buat kita yang selalu ingin berfikir.

1) Bolehkah pelakon-pelakon perempuan yang tidak menutup aurat membintangi filem-filem sebegini?

2) Bolehkan para pelakon bergaul bebas walaupun melanggar syariat Islam dalam lakonan mereka? - ie: Pelakon berlagak macam laki bini, yang berlakon jadi kekasih peluk sana, pegang sini, usap sana, belai sini, etc-etc.

>>>Kita kadang keliru, filem yang membawa mesej Islam, tapi dalam masa yang sama violate hukum Islam. Itu sahaja.

Namun, begitupun kita cuba mempersoalkan perkara-perkara ini, eloklah kita kembali berpijak di bumi nyata. Kembali sedar akan realiti kita pada hari ini. Kita tidak punya pilihan. Kalau dengan filem atau drama itu kita lihat mempunyai potensi besar untuk menyentuh seberapa ramai hati mad'u di luar sana, maka kita tidak ada pilihan melainkan melebarkan sayap dakwah menerusi filem-filem atau drama TV. Tambahan pula, buat masa ini, bukan kita yang berhak sepenuhnya terhadap filem-filem itu. Maksudnya, dalam pada hendak menjayakan sesebuah cerita seperti ini, kita masih perlu berurusan dengan orang lain juga yang mngkin masih belum faham tentang Islam. Contohnya, bukan kita yang berhak memilih barisan pelakon, bukan kita yang berhak mengarahkan drama-drama atau filem-filem ini. Lainlah cerita kalau orang-orang kita pun sudah jadi orang kuat pembuat filem. (Ada kot, mungkin tak ramai)

Lagi satu, kalaupun barisan pelakon yang dipilih itu menutup aurat, atau dikehendaki menutup aurat dalam lakonan mereka, kita tidak akan dapat mengelak babak-babak mesra dalam sesebuah filem, ie: isteri cium tangan suami sebelum pergi kerja. Atau kita juga tidak dapat mengelak apabila ada watak seperti gadis bohsia yang memerlukan pelakon wanita menjadi pelakon yang seksi, lepas laku dan liar.Apakah logik watak sebegini dilakonkan oleh seorang gadis manis yang menutup aurat?

>>>Yee...mungkin ada yang akan mencadangkan begini; "so, kalau macam tu, kita ambillah pelakon bukan Islam untuk berlakon watak macam tu, dorang kan dah tak dikira kalau buka aurat." Hmmm....cadangan menarik. Tapi, sedarkah kita matlamat sebenar kita mempersoalkan hal ini? Kita mempersoalkan tentang dosa pahala! Sedar atau tidak siapa-siapa pun pelakon itu, mata siapa juga yang akan menonton filem itu kalau bukan mata kita?

Kalau nak bercakap pasal dosa pahala, mata kita dulu yang kena jaga. Allah kan dah pesan supaya jaga pandangan mata kita. Lupa?

>>Kita terlalu banyak bertanyakan soalan-soalan yang saya kira kita sendiri keliru dan kabur untuk menjawabnya. Sukar dijelaskan kerana persoalan boleh @ tidak, halal @haram, dosa @ tidak ini sebenarnya tidak ada istilah noktah. Lagi ditanya, lagi rumit untuk menjawabnya.

Dan saya yakin, jika kita terus bertanya persoalan-persoalan ini, tidak mustahil titik jawapan yang akan kita temui adalah hanya semudah, " Tutup je terus TV tu...."

Sebab apa saya berkata begini? Kerana, sesebuah produksi yang menghasilkan filem/drama yang membawa ruh dakwah bersamanya sekurang-kurangnya sudah menjalankan satu tanggungjawab mereka terhadap Allah iaitu menyampaikan dakwah dengan cara yang mereka mampu. Daripada mengeluarkan movie2 lagho, mereka telah melahirkan movie2 yang menyentuh hati dan sesuai menjadi santapan rohani.

Tetapi kita? Pernahkah bertanya pada diri? Apakah yang telah kita sumbangkan pada agama Islam tercinta ini? Pada dakwah dan tarbiyyah yang kita dakwa medan kita berbakti saban hari? Kita kadang-kadang terlalu banyak menganalisa dan mengkomplen kerja-kerja orang. Di mata kita semua tak kena. Itu salah, ini ralat, itu tak betul ini tak tepat. Macam-macam.

Tanya balik diri. Kalau betul kita peduli tentang dosa pandangan mata melihat wanita yang membuka aurat, melihat maksiat terang-terangan di kaca televisyen (yang mana semuanya jadi halal di depan kamera), dan suara-suara wanita yang menyanyi mendayu-dayu, kita pasti tidak kuasa pun untuk menekan butang "ON" pada TV.

Kerana di TV itu 90% adalah suapan tarbiyyah jahiliyyah. Iklan-iklan shampoo, iklan-iklan menguruskan badan serta iklan-iklan kosmetik, semuanya mempamerkan segenap batang tubuh wanita. Kalau boleh saya tanya, berapa banyak sangat program2 TV yang tidak melalaikan?

Dan dalam keadaan kita yang samar beginipun kita masih sibuk mempersoalkan filem-filem dakwah. Ya, saya tahu, niat kita murni. Persoalan sebegitu timbul kerana niatnya hendak mencerahkan yang kelabu, hendak membetulkan yang ragu.

Namun berbaliklah kepada realiti, sekurang-kurangnya buat masa ini. Sedarlah bahawa bukan semua perkara di tangan kita. Bukan semua perkara kita boleh handle. Lagipun, adakah kita sudah menyediakn alternatif kepada persoalan-persoalan kita?

Maksud saya, kalau pelakon yang tidak menutup aurat itu masalahnya, adakah kita sudah sediakan ukhti-ukhti kita yang menutup aurat supaya berlakon? (ops, boleh ke? Nanti timbul isu lain pulak...) Kalau soal pergaulan bebas dalam lakonan itu yang mengganggu hati kita, adakah kita sudah menyediakan garis panduan untuk pelakon-pelakon drama Islami bagi mereka ikuti? Hmm..apa-apa la kan. Cumanya , apa yang ingin saya sampaikan ialah, jangan kita sekadar bertanya dan menimbulkan persoalan tanpa jawapan. Sediakan alternatif sebelum komplen itu ini dan jangan lupa selalu cermin-cermin diri. Orang lain sudah terbang ke langit biru. Takkan kita masih melukut di tepi gantang, menunggu bulan jatuh ke riba. Do something, be somebody. Ok, salam sayang dari saya yang baru habis exam. yippeee!!




Isnin, Mei 11, 2009

Ape erti hidup yerk?Nape dicipta sebagai manusia?

xkan lah saje2 kot Allah nak cipta.

Takkan untuk makan,minum,tidur,belajar,kerja,kahwin pastu mati??Macam ade something tertinggal di celah2 hidup tuh..

Kilang pen dibangunkan pun supaya boleh cipta pen yang boleh digunakan untuk menulis.Tapi,kalau buat kilang pen,tapi sebabnye sesaje.mesti kita pun cakap pembuat kilang tu tak cerdik sebab merugikan duit bina kilang tapi tak tahu sebab ape.

Dah tu,ape kena mengena pulak dengan aku?haa,fikirlah,bakpe Allah cipta engkau.Jawapan di mana2,cume usaha aje untuk tahu.Dan bila dah tahu,kena cakap kat orang lain dan same2 berusaha untuk buat.Kalau buat ramai2,insyaAllah tak susah.

tugasnye 2 saje:

1)Al-baqarah;30

2)Az-zariyat;56

Dan jika masih confius identity,meh tengok video nie,mana tahu boleh jumpa balik identity diri.:)

Ada satu syair mengatakan

“Jika kamu tidak boleh menambah kebaikan kepada dunia,engkau merupakan bahan lebihan dunia”

Moga bermanfaat.

suber:kak ain blog

Isnin, April 27, 2009

Video di bawah ini telah saya lihat banyak kali. Berkali-kali. Tetapi saya tidak pernah puas menontonnya kerana setiap kali saya melihat video ini, setiap kali itu jugalah semangat baru meresap ke dalam jiwa saya.


Mungkin ada di antara sahabat-sahabat yang sudah pun menontonnya. Namun, pada saya, tidaklah salah untuk kita refresh balik mesej yang ingin disampaikan melalui video ini. Insya Alllah, sama-sama kita mengambil iktibar daripadanya.




****sila ke youtube.com untuk melihat bahagian kedua video ini. (highly recomended)

Selasa, April 14, 2009

Kelabukah kita?Saya terkesan dengan ayat ini.Dalam hidup,pernah tak kita terfikir untuk membuat amalan dan amal ibadah yang biasa2 sahaja kerana tidak mahu menjadi extreme.Sedangkan sedarkah,kita telah mencipta ilusi kelabu di antara hitam dan putih.Kita ingin jadi biasa-biasa sahaja.Sedangkan siapakah kita yang ingin mencipta dunia sendiri.Mengikut perintah Allah itulah yang putih dan melanggar perintah Allah itu hitam.Tiada di tengah2.Tiada istilah orang yang solat tapi mencuri,tiada orang yang cintakan Allah tapi berakhlak buruk,Tiada insan yang beriman jika tidak dapat menahan sabar.

Oleh itu janganlah lemah semangat dalam berjuang dan dalam amalan kebaikan.Jangan ada ragu-ragu untuk membuat kebaikan dan untuk berubah.Kerana tiada istilah di tengah-tengah.Tiada istilah Buat ibadah biasa2,tiada istilah buat baik tapi jgn baik sgt.Sama juga dalam kita menyeru manusia kepada kebaikan,itu bukan pelik,tapi kerana itu perintah Allah.Jangan lemah jika kawan-kawan mengejek kerana terlalu baik,tapi ingatlah kepada janji Allah untuk orang yang menyeru kebaikan——> SYURGA.

hayatilah cotetan di bawah.begitu terkesan di hati.Insan Kelabu.Kitakah itu?Andai,ya,Jom berubah.

TAKEN FROM DAKWAH.INFO(dakwah.info)

——————————————————————————————–


Mahu Jadi Biasa atau Luar Biasa
PDF Print E-mail
Written by admin
Tuesday, 23 December 2008 11:02

Impian saya semasa kecil dahulu ialah menjadi seorang yang luar biasa. Saya mahu menjadi seorang yang mempunyai kuasa istimewa. Mungkin bukan seperti ‘Superhero’ yang terbang di angkasa, tetapi seorang yang mempunyai kuasa istimewanya yang tersendiri. Saya mungkin banyak terpengaruh dengan buku-buku yang mengisahkan watak-watak dengan kuasa istimewa.


Paling terkesan ialah cerita Mathilda oleh Roald Dahl. Yang saya impikan ketika itu adalah mempunyai kuasa ‘psychic’ sepertinya. Pernah juga dulu rakan-rakan menggelarkan diri saya ini “GK”, dengan pelbagai maksud yang berbeza dek kerana saya gilakan kuasa yang pelik-pelik.


Bila menginjak usia remaja, saya telah memilih untuk menjadi orang yang ‘biasa-biasa’ saja. Bukan biasa dengan erti kata tiada kuasa istimewa, tetapi biasa seperti mana rata-rata orang Islam lainnya, atau lebih tepat lagi, biasa dalam erti kata ‘Islamnya’. Kenapa? Kerana ketika itu bagi saya, orang yang membawa imej Islam nampak berbeza dari segi fizikalnya. Mereka seolah-olah manusia pelik. Kebanyakan mereka bertudung labuh lebih daripada biasa, senyap dan sangat bersopan. Bukan bermaksud saya tidak boleh menerima kewujudan mereka, tapi lebih kepada diri saya sendiri. Saya dapat rasakan bahawa diri ini akan menjadi pelik sekiranya saya menjadi seperti mereka. Ditambah lagi dengan tanggapan bahawa orang seperti mereka ni agak kolot, berfikiran tertutup dan asyik bersama dengan kelompok mereka sahaja. Saya kadang-kadang pelik dengan mereka. Bagaimana mereka nanti akan dapat menempuh dunia yang semakin mencabar dengan keadaan mereka yang sebegitu? Bagaimana mereka mahu bergaul dengan masyarakat dalam keadaan tidak boleh menerima pendapat semasa? Dan pelbagai lagi persoalan lain yang didasari tanggapan bebas diri sendiri.


Oleh kerana itu saya telah memilih untuk menjadi manusia yang biasa saja. Tidaklah baik sangat dan tidaklah teruk sangat (kononnya!). Pada hemat saya, cukuplah saya solat, belajar agama, menghormati Islam dan menjaga batas-batas (walaupun pada ketika itu apa yang saya ketahui sebenarnya sangatlah terbatas). Saya beranggapan bahawa dengan menjadi antara orang-orang yang di tengah inilah yang paling bagus kerana saya boleh menerima dan diterima sesiapa saja. Orang yang ‘biasa-biasa’ dengan moto hidupnya, “Enjoy-enjoy juga, solat jangan lupa!”. (Enjoy=maratahon DVD, main game, hang-out dengan kawan-kawan, berlibur dan berhibur)


Tanpa saya sedari, rupanya sayalah manusia yang telah memilih ‘Jalan Kelabu’; Manusia yang memisahkan antara agama dan kehidupannya yang lain atau erti kata lainnya manusia yang SEKULAR.


Dan tanpa saya sedari juga, saya telah memilih jalan yang salah! ‘Jalan Kelabu’ itu tidak wujud sama sekali. Hidup ini hanya ada dua pilihan. Putih atau Hitam. Haq atau Batil. Benar atau Salah. Baik atau Jahat. Syurga atau Neraka.


Jalan Kelabu yang saya pilih itu hanyalah satu ilusi. Ilusi untuk membawa saya terjerumus ke Jalan Hitam. Bahkan bukan saya saja, tetapi juga orang-orang Islam yang melihat Islam dan kehidupannya seperti ada pemisah.

Ah, lihat saja.

Islam di sini kelihatan gah dengan masjidnya.

Islam di sini kelihatan bila orang ingin membina masjid mereka.

Islam di sini kelihatan dengan ritual ibadahnya saja.

Bagaimana pula dengan lainnya? Dan saya bakal ketawa geli hati bila mana orang memanggil ini negara Islam sedangkan seumur hidup saya tidak melihat islamnya.


Pergilah ke mana-mana kompleks membeli-belah terkemuka. Saya kadang-kadang terasa pelik. Seolah-olah saya berasa di bumi yang sungguh asing. Iklan yang terpampang langsung tidak menunjukkan pendirian negara ini; Oh, ya negara islam contoh. Sedang kebanyakan manusia yang menjadi isinya memilih untuk menjadi manusia yang biasa-biasa sahaja. Biasa dan sederhana dalam pengertian mereka sebagai seorang Islam. Oh, kalau dulu mungkin dilihat manusia yang biasa ialah mereka yang mematuhi semua rukun islam dan tidak nampak extreme dengan pakaian mereka.

Tapi itu definisi biasa pada manusia yang biasa pada masa zaman saya. Definisi yang dicipta oleh manusia akan berubah mengikut selera mereka. Kini, orang Islam dalam kategori biasa mungkin seperti ini pula:

-Solat. Tapi tidak cukup 5 waktu pun tak mengapa, janji solat.

-Berpacaran. Berpegangan adalah biasa, jika tidak itu alim.

-Bertudung. Dengan erti kata rambut atau sebahagian rambut itu tertutup. Tapi ya, hanya rambut, bahagian lain tidak termasuk syarat utama.

- dan senarai ini berterusan mengikut kehendak sendiri….


Kalau inilah definisi manusia yang ‘biasa-biasa sahaja’ pada masa sekarang, bagaimana pula nanti akan datang? Apa lagi ‘biasa-biasa sahaja’ yang akan mereka terjemahkan lagi? Akan makin kurang syaratnya?

Saya bukan mahu tujukan ini kepada sesiapa. Bukan juga mahu bersikap pesimis. Juga bukanlah kerana saya ingin berkata yang saya ini lebih bagus dan mereka tidak.

Adalah penting untuk kita jelaskan bahawa tidak wujud sama sekali definisi Islam dengan cara kita sendiri: Islam yang sekerat-sekerat dengan mengambil apa yang disukai sahaja. Masih ramai orang Islam hari ini yang mengambil cara mudah dengan memilih untuk berada di jalan tengah yang sememangnya tidak wujud sama sekali. Betapa ramainya lagi orang Islam dalam masyarakat kita yang masih kabur dengan memilih untuk menjadi orang Islam yang biasa-biasa ini? Mereka ingin menjadi orang biasa yang ingin mengambil Islam secara sederhana. Orang-orang yang mungkin juga berubah-ubah definisi mereka terhadap definisi ’sederhana’ itu sendiri. Apakah maksudnya sederhana itu dengan memakai tudung sekerat cuma? Atau sememangnya definisi sederhana itu kepada mereka ialah dengan tidak mencampur adukkan urusan agama dengan kehidupan lainnya?

Sesiapa pun boleh memilih untuk menjadi orang biasa yang sibuk memikirkan persepsi orang lain terhadap mereka. Mungkin dengan memilih untuk menjadi orang yang biasa-biasa itu akan kelihatan lebih mesra dan mudah didekati oleh semua golongan. Boleh jadi juga manusia yang biasa-biasa ini ialah diri ini yang mungkin masih terlekat lagi jahiliyahnya kerana tidak mahu dilihat aneh oleh orang biasa-biasa yang lainnya.


Jika begitu, perlu saya mengingatkan diri ini bahawa Islam itu datang untuk mengeluarkan manusia daripada perhambaan sesama manusia kepada perhambaan total kepada Allah semata-mata. Andai kita masih melihat diri dari kaca mata manusia sahaja, apakah sudah lengkap Islam itu pada diri kita? Apakah kita masih ragu-ragu untuk melakukan sesuatu yang mungkin kelihatan aneh dan janggal dalam masyarakat sedangkan itulah hakikat Islam yang sebenar?


Sekarang, saya tidak mahu menjadi orang yang biasa-biasa lagi. Saya mahu jadi luar biasa! Luar biasa ke arah jalan yang Benar, jalan yang Haq, Jalan yang Putih, Jalan yang ke Syurga pastinya. Saya mahu berada di jalan Al-Haq, bukan lagi al-Hawa’. Saya tidak mahu lagi pilih jalan kelabu yang keliru itu. Saya harap kamu juga tidak begitu. Jadi kita boleh sama-sama mengikut jalan yang luar biasa tetapi benar ini. Saya harap untuk jumpa kamu di syurga, mahukah kamu?


Oh ya, jangan lupa juga bawa mereka yang berada di sekeliling kamu..saya pasti mereka juga mahu ke sana. Cuma, mereka mungkin keliru dalam memilih jalannya.


Saya teringin untuk mendengar Tuhan memanggil kita semua kelak apabila sampai di sana…


“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan redha dan diredhai. Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu. dan masuklah dalam SYURGAKU”

(89: 27-30)


Mari!


Tulisan hati:

Bukan Orang Biasa

~Hamra’ Al-Asad~

Sabtu, April 11, 2009

Wanita solehah tidak boleh sembarangan mencintai lelaki. Lelaki yang paling wajar dicintai oleh wanita solehah ialah Nabi Muhammad SAW. Ini kerana Nabi Muhammad SAW adalah pembela nasib kaum wanita. Baginda telah mengangkat martabat kaum wanita daripada diperlakukan dengan kehinaan pada zaman jahiliyah, khususnya oleh kaum lelaki. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga berjaya menyempurnakan budi pekerti kaum lelaki. Ini membawa keuntungan kepada kaum wanita kerana mereka mendapat kebebasan dalam kawalan dan perlindungan keselamatan oleh kaum lelaki.

Iaitu dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW menjadikan bapa atau suami mereka berbuat baik dan bertanggungjawab ke atas keluarganya. Demikian juga dengan kedatangan Rasulullah SAW telah menjadikan anak-anak tidak lupa untuk berbakti kepada ibu mereka, contohnya seperti Uwais Al-Qarni. Salah satu tanda kasih Baginda SAW terhadap kaum wanita ialah dengan berpesan kepada kaum lelaki agar berbuat baik kepada wanita, khususnya ahli keluarga mereka. Rasulullah SAW sendiri menjadikan diri dan keluarga baginda suri teladan kepada kaum lelaki untuk bagaimana berbuat baik dan memuliakan kaum wanita.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan yang berbuat baik kepada ahli keluarganya.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi) Lagi sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya; dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi.” (Riwayat Abu ‘Asakir). Tapi betul ke wanita solehah itu lebih baik daripada bidadari syurga?

Daripada Umm Salamah, isteri Nabi SAW, katanya(di dalam sebuah hadis yang panjang): Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih baik atau bidadari?” Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?” Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah, Allah akan memakaikan muka-muka mereka dengan cahaya dan jasad mereka dengan sutera yang berwarna putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al-Tabrani).

Terkejut bila membaca hadis ni dan ingin berkongsi bersama rakan-rakan lain. Sungguh tinggi darjat wanita solehah, sehingga dikatakan lebih baik daripada bidadari syurga. Semoga hadis ini menjadi inspirasi bagi kita semua dalam memperbaiki diri agar menjadi lebih baik daripada bidadari syurga. InsyaAllah.. Tapi, bagaimana yang dikatakan wanita solehah itu? Ikuti kisah berikut, semoga kita sama-sama beroleh pengajaran.

Seorang gadis kecil bertanya ayahnya, “Ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah sejati?” Si ayah pun menjawab, “Anakku,seorang muslimah sejati bukan dilihat dari kecantikan dan keayuan wajahnya semata-mata.Wajahnya hanyalah satu peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. Itulah yang terbaik”. Si ayah terus menyambung, “Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersona,tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu".

"Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak mana kebaikan yang diberikannya ,tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu.Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujah kebenaran". Berdasarkan ayat 31,surah An Nurr,Abdullah Ibnu Abbas dan lain-lainya berpendapat, "Seseorang wanita islam hanya boleh mendedahkan wajah,dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahram". (As syeikh said hawa di dalam kitabnya Al Asas fit Tasir).

“Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga menghairahkan orang yang ada perasaan dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan yang baik-baik”. (surah Al Ahzab:32). “Lantas apa lagi ayah?”sahut puteri kecil terus ingin tahu. “Ketahuilah muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuwatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya dirinyalah yang mengundang orang tergoda".

"Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur dengan segala kurniaan yang diberi.Dan ingatlah anakku muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul”.


Setelah itu si anak bertanya, ”Siapakah yang memiliki criteria seperti itu ayah?Bolehkah saya menjadi sepertinya?mampu dan layakkah saya ayah?”.

Si ayah memberikan sebuah buku dan berkata,”Pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh menjadi muslimah sejati dan wanita yang solehah kelak,malah semua wanita boleh”. Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH. Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu ,puasa di bulan ramadhan ,menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya,maka masuklah ia ke dalam syurga dari pintu-pintu yang ia kehendakinya”.(riwayat Al Bazzar)

P/S: "Seindah hiasan adalah WANITA SOLEHAH"

sumber:iluvislam.com

Ahad, April 05, 2009

Kisah Satu:

“Minah, dah masuk waktu solat ni. Stop la dulu chatting tu. Ko ni..dari pagi sampai ke malam chatting je kerja. Pastu menjelajah segenap blog. Dah la tu, jom solat Asar jom, kita jemaah,’ ajak Husna tak berlapik-lapik lagi dah. Dia kenal sangat dengan sahabatnya tu, kalau diajak dengan manis, takkan bergeraknya dari kerusi tu. Biar pedas sikit, baru dia bangun.

***

Kisah Dua:

“Amad, oii Amad..meh tolong mak kejap. Jemur ikan kering ni. Udah-udah la maen game nye...meh tolong mak ni...,”jerit mak Amad kepada anak terunanya itu.

“Ala mak...kejap r...orang dah sampai level 10 dah ni... Mana boley tinggal mak..,” Begitulah Amad. Setiap kali disuruh ibu, ada saja alasannya. Hatta dah nak dekat exam pun dia masih mengulit game kesayangannya.Pendek kata, makan game,tido game, awek game, study game, dan segala-galanya adalah game. Seolah-olah macam, oohhh,game la hidup matiku!!

***

Baiklah,cukup dengan dua kisah. Agak-agak, siapa Minah dan siapa pula Amad ye? Ada kena-mengena ke kisah diorang ni ngan kita?


Cut to the chase, sebenarnya saya sengaja bawakan dua kisah ni untuk renungan kita bersama. Kadang-kadang kita tak sedar yang kita ni dah jauh hanyut dengan benda-benda picisan sehingga setiap hari hidup kita diperhambakan dengan perkara-perkara remeh itu. Macam Amad. Adakah patut seorang rijal Islam menghabiskan hayat mudanya dengan game? Sedangkan Sultan Muhammad Al-Fatih Berjaya menawan Constantinople pada ketika umurnya 21 tahun? Tengok lagi contoh lain, Hassan Al-Banna menjadi mujaddid saat umurnya juga 20-an. Dia sudah bisa membina Ikhwanul Muslimin yang bukan calang-calang kekuatannya. Tapi kita??


Kita sibuk dengan hal-hal dunia yang tak perlu. Yang perempuan sibuk dengan fashion, pak we dan mekap. Setiap hari haruslah tampil cantik dengan fashion terkini dan sensasi. Yang lelaki pun lebih kurang je gayanya. Sibuk dengan mak we ke hulu ke hilir, solat jemaah haram nak pergi. Pastu, balik dating sambung main game sampailah ke Asar, dari Asar bawa ke Maghrib dan begitulah seterusnya. Pagi esok dalam kelas tidooooo....


Sedar tak semua benda tu jahiliah-jahiliah yang menyumbang kepada mundurnya Islam. Attention, saya bukan kata mundurnya MELAYU, tidak! Saya kata jahiliyah-jahiliyah ini memundurkan Islam. Rijal-rijal kita hanyut.....Tak kira laki perempuan semua duk cucuk langit dengan kepala terangguk-angguk. Apa orang putih kata, head bagging? Haa..ye la kot... Kalau kita gi tinjau area Bukit Bintang tu, bolehlah kita lihat betapa rosaknya remaja-remaja kita. Tapi yang hairannya tak de siapa ambil peduli, sebab mereka dah anggap ni macam kehidupan moden. Tak kisah jantan betina keluar sama-sama, buat projek di mana-mana macam dunia ni dia yang punya. Isk3.....


Toyyib, mungkin ada yang bertanya. Apa kaitannya mundur maju Islam dengan aku? Aku orang Melayu, Islam tu agama aku je. Dah solat lima kali sehari cukuplah. Buat apa nak lebih-lebih?


Jawapannya, anda memang ada kaitan dengan Islam sebab bila anda semua mati , Allah tak tanya pun anda Melayu ke Cina, Allah akan judge anda dan saya based upon our religion rite? Kalau kita dah kafir tu memang insya Allah siang-siang lagi Allah dah campak dalam neraka. Tapi kita adalah umat manusia yang mengaku Islam kan. Yang mengaku Allah tu Tuhan dan Muhammad adalah Rasul. Yang mengaku juga Allah tu tujuan, dan Rasulullah tu ikutan. Allah sudah isytiharkan kita sebagai khalifah di muka bumi. Bukan DIA cipta kita saja-saja sesedap rasa je. Tapi DIA cipta kita ada sebab dan musababnya. Allah berfirman,


“tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaKu,” (Ad-Dzariyat:56)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi...” (Al-An’am : 165)


Jadi sekarang jelas kita diciptakan oleh Allah atas dua sebab:


1) KHALIFAH

2) BERIBADAT KEPADA ALLAH


Sahabat-sahabat yang saya hormati dan kasihi sekalian, tidaklah perlu untuk bertanya soalan-soalan seperti salah ke tengok cite Korea, @ salah ke ada girlfren,boyfren?) Seperti yang kita sedia maklum, apabila kita dah start menonton satu episod cerita Korea, maka secara automatiknya kita akan terinduce untuk menyambung ke episod seterusnya dan seterusnya sampai ke seratus episod. Saya nak tanya anda, berapa lama masa yang dihabiskan untuk menonton episod-episod itu? Seminggu, Dua minggu? Atau anda stay up untuk menghabiskannya dalam masa satu hari? Tepuk dada, jawab sendiri. Persoalan yang kedua, “salah ke saya bercinta?”


Anak bangsaku yang seagama, ingatlah dan telan baik-baik firman Allah ni, Surah Al-Israa’(17) ayat 32:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Secara detailnya, semua jalan yang menuju ke arah zina seperti bercouple adalah HARAM! Sebab, bila dah bercouple, anda telah membuat zina hati,zina mata, zina telinga, zina kaki dan zina tangan.

Rasulullah bersabda,

Dalam hadis, baginda rasulullah telah memperincikan jenis-jenis zina. Daripada Abu Hurairah r.a katanya, Nabi S.A.W. bersabda :

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan nasib anak Adam mengenai zina. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Zina mata ialah memandang. Zina lidah ialah berkata. Zina hati ialah keinginan dan syahwat,sedangkan faraj (kemaluan) hanya menuruti atau tidak menuruti

Hadis kedua; Daripada Abu Hurairah r.a., dari Nabi S.A.W. sabdanya:

Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan, zinanya memukul. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti atau tidak mengikuti.”


Anda berzina hati bila anda membayang-bayangkan kekasih anda, anda berzina telinga bila anda bergayut telefon dengan suara manja dan meliuk-lentoknya, anda berzina tangan bila anda berpimpin dengan kekasih anda atau menaip mesej cinta untuk si dia, dan anda telah berzina kaki apabila anda menuju ke tempat dating.....Nah..jelas????


Jika anda memandang masalah ini dengan hati, maka anda yang mahu berfikir akan dapat melihat bagaimana jahiliyah-jahiliyah itu telah melambatkan kemajuan umat Islam. Semua jahiliyah itu membuang masa kita yang berharga. Masa kita berdating ,tengok movie atau chatting sebenarnya boleh kita isi dengan perkara-perkara lain yang lebih berfaedah. Contoh, buat program motivasi untuk budak sekolah, buat video islamik, asah bakat masakan atau cuba duduk dan fikirkan masalah ummat dan cari penyelesaiannya.


Jahiliyah ni kalau boleh saya ibaratkan seperti chewing gum. Chewing gum ni kalau terlekat kat kasut kita, ia akan melambatkan perjalanan kita kan? Sebab kita mesti berusaha nak buang chewing gum tu dulu baru sambung jalan balik. Ye tak? So, sedar atau tidak, chewing gum tu dah melambatkan perjalanan kita untuk menuju ke sesuatu tempat.


Begitu juga dengan jahiliyah. Bila ada jahiliyah yang melekat pada hati atau diri kita, maka kita telah melambatkan proses kebangkitan Islam. Nampak tak?? Ke blur? Tak pe la, saya assume korang faham ek.


So sekarang tugas anda adalah membuang jahiliyah-jahiliyah itu. Tetapi teman yang dikasihi dan dirahmati sekalian, tentulah anda tidak akan bisa mengikis karat-karat jahiliah andai anda tidak punya halawatul Iman yakni Kemanisan Iman....

3 perkara untuk mendapat kemanisan iman :

  1. Allah dan rasul lebih disayanginya melebihi segala-galanya..
  2. menyayangi seseorang hanya kerana Allah..
  3. benci utk kembali pada kekufuran sepertimana benci utk dicampakkan ke neraka..

Memang bukan senang nak buang jahiliyah dari dalam diri. Tapi jangan kita berputus asa. Elakkan berkawan dengan syaitan. Sentiasa buat perkara yang bertentangan dengan kehendak nafsu. Kalau rasa malas, rajinkan diri, kalau rasa nak tengok movie, bangun dan pergi buat kerja-kerja lain. Sibukkan diri! Selamat beramal semua!=)Jom ucapkan Sayonara Jahiliyah!!

“..sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri…dan
apabila Allah mengkehendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum,maka tak ada yg dapat menolaknya,dan sekali-kali
tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (surah
ar-ra’d:11)

p/s:

-Sape nak tahu detail pasal sultan muhammad Al-fatih, klik sini

-Sape nak tahu pasal couple, klik sini

 
Copyright (c) 2010 Diari diDie. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.